Kita Kembali Bertemu

Pertemuan adalah permulaan dalam proses belajar menemukan, sebuah ritual tanpa janji, lepas tanpa memikat..seakan akan batin sedang berdialog manja denganmu kala itu... Padahala, tangan sudah berkeringat dingin dan bergetar tak berfikir panjang apakah harus kumiliki atau sekadar basa basi, hanya bisa menikmati saat itu...

Tapi,..perlahan aku tenggelam dalam lautan rasa penuh harap ketika memandang elok parasmu, seketika juga teringat aku hanyalah sebutir batu di antara mutiara, yang tak layak di bandingkan... Aku merasa bagai jangkar berkarat yang tenggelam tidak berdaya di dasar samudra nan dalam...

Kamu berjalan mendekatiku..sedetik senyuman dilontarkan ketika akhirnya kamu hanya permisi untuk sekedar melewatiku berlalu begitu saja... Oh tidak... Sejahat itukan anugerah paras yang indah, aku yakin sudah ratusan orang yang di sihir dengan senyum mu... Bahkan kamu memilih tanpa ekspresi pun aku tetap larut mencintai mu...

Aku seketika menjadi orang paling naif yang seketika mencari segala cara untuk dapat sekedar berdialog dengan mu.. Hingga pada hari selanjutnya, semesta mendukung agar kita bertemu kembali.. Teriknya panas siang hari ternyata lebih bersahabat dari biasanya, kamu datang dari kejauhan dan duduk di sampingku..

Sampai aku menyadari pada hari hari berikutnya bahwa tempat itu adalah mahligai terbaikmu ketika sedang menyendiri..aku ingat sekali..yang kita lakukan disana hanyalah berkenalan dan berbincang ala kadarnya, waktu itu aku membicarakan hal hal paling basi yang pernah di lontarkan..waktu tidak mampu di elakkan, kita pun berpisah...

Setelah pertemuan itu, aku merasa nyaman dalam lelapnya tidur, karena aku sebebas mungkin merekayasa mimpi untuk membuat panggung sandiwara drama yang indah antara aku dan kamu saja, aku merasa menjadi sutradara mimpi paling hebat dalam membuat cerita tanpa plot kesedihan... Meski kenyataannya, aku sadar untuk merasa paling pesimis...

Aku sesederhana ini dan berkekurangan, sedangkan kamu sesempurna itu dan berkelebihan, mendapatkanmu ibarat menangkap asap dengan tangan kosong, bagaikan manusia berharap punya sayap untuk menggapai langit, sekuat dan sebesar apapun usaha... Aku merasa, walau sekeras kerasnya memperjuangkan dirimu, namaku tidak akan ada dalam catatan takdir untuk menjadi setengah jiwamu...

Entahlah aku hanya terlalu banyak mengeluh dari pada berjuang aku tidak tahu apakah kisah bahagia antara aku dan kamu sekedar di dunia mimpi atau juga di kehidupan nyata,.. Berbicara mengenai mimpi, perkenalkan aku... sutradara mimpi yang lihai merekayasa bahagia 

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Permohonan

Sang Pengagum