Dear April

Dear april... Sebelumnya aku tidak pernah sebahagia ini ternyata mengikhlaskan membuatku lebih tenang aku sudah lelah menggenggam pisau berbilah tajam meski luka karena genggamannya masih berbekas jelas... 

Rasanya masih kuingat, indah mengalun alun di bawah pohon yang rindang kamu yang menawan pernah meraih tangan ku, berbisik untuk tetap selamanya bersama...lalu engkau teriak...dan meninggalkan aku yang sendirian dibawah pohon yang rindang...

Aku tidak tahu kapan buah dari pohon ini akan jatuh, yang aku takutkan ketika buahnya jatuh tepat di kepala ku dan akupun tak dapat menghindar, karena untuk bergeser sedikitpun aku malas...

Aku ingin tetap di sini, di tempat yang sama dimana aku menunggu mu seperti dulu kamu meraih tangannya... Mungkin cuma buah yang akan jatuh di kepalaku, bisa saja ranting, kayu yang besar, atau bahkan pohon tempat ku berlindung ini akan roboh menimpa ku...

Padahal... Aku membutuhkan rindangnya untukku berteduh anginnya yang membuatku semakin berangan, anganku yang tak pernah pudar masih sama seperti ketika kamu masih disini, tapi kita tidak sama kamu yang aku kira pohon yang rindang ternyata hanya ranting kering yang rapuh...

Bagaimana mungkin kamu kuat menopangku rantingmu saja gampang patah baru kutarik sedikit kamu sudah gugur, baru ku ungkapkan sedikit kamu sudah hilang... Hilang jauh tertiup angin terbang entah kemana...

Daunmu yang hijau telah mengering, rantingmu yang kokoh tempat ku bersandar sudah patah dan aku terjatuh sakit sekali...Seperti itulah Aprilku... Dia pergi lalu bahagia dan aku masih disini, menatap pohon khayalan yang aku ciptakan sendiri...

Pohon itu sudah kutebang... buahnya sudah habis kumakan, kayunya aku berikan untuk kakek tua yang sering mengais ranting ranting kering yang berguguran... Daunnya terbang dan mungkin sudah bersemayam di suatu tempat yang indah bersama penunggu pohon lainnya...

Pergilah...Aku sudah melupakanmu.............

Comments

Popular posts from this blog

Kita Kembali Bertemu

Sebuah Permohonan

Sang Pengagum